Tips

Memotret Festival dengan Lensa Tele

Dengan hanya memakai lensa tele, kita bisa lebih fokus dalam memotret festival.

Yang seperti ini cuma ada di Indonesia.

Memotret festival itu hectic tapi menyenangkan. Terlebih Indonesia adalah negeri yang kaya festival. Hampir tiap bulan ada festival, bahkan kadang di minggu yang sama ada beberapa festival.

Dari berbagai kesempatan meliput festival seni dan budaya, pengalaman mengajarkan bahwa untuk menghasilkan foto yang unik, colorful, dan tajam, maka kemampuan mengejar momen dan fokus pada satu subjek saja yang benar-benar unik, menjadi sangat penting. Karena itu saya sering hanya memakai satu lensa yang benar-benar saya percayai kualitasnya, dan tidak mengganti-ganti dengan lensa lain selama memotret. Dengan cara ini, saya menjadi lebih fokus terhadap apa yang ingin saya foto, tidak terganggu pemikiran untuk mengganti-ganti lensa yang kadang membuang waktu dan membuat saya kehilangan momen.

Dengan lensa tele tetap bisa mendapat foto yang ‘lebar’.

Salah satu lensa tele zoom standar yang sering saya pakai adalah Nikkor AF-S 55-200 mm f/4-5.6 ED VR. Ini bukan lensa profesional, dan dipasangkan dengan Nikon D40 yang ‘jadul’ -resolusinya cuma 6 megapiksel- serta flash tambahan SB-400 sepertinya bukanlah ‘tim juara’.  Tapi dengan kamera di-set ke mode Program, ISO disetting supaya kecepatan shutter-nya di atas 1/60 detik (di atas 1/200 detik lebih bagus), dan flash SB-400 sudah nangkring di dudukannya, saya siap membuat foto-foto yang bagus.

Berani ambil foto dari dekat?

Selain karena sudah terbukti menghasilkan gambar yang tajam dengan warna maknyus, ada beberapa alasan lain mengapa saya lebih memilih lensa tele ini dibanding lensa wide atau fixed.

Awas, awas, lesung edan mulai beraksi!

Pertama, saya lebih leluasa memotret dari jarak yang cukup jauh, karena pada umumnya dalam festival, peserta membutuhkan tempat yang lebih luas agar bisa bergerak leluasa.

Kedua, dengan jarak yang cukup jauh, subjek tidak merasa ‘terintimidasi’ saat difoto candid.

Fokus ke Point of Interest yang mau dibidik – cowok keren ini.

Ketiga, dengan ruang bidik yang lebih sempit, kita dipaksa untuk lebih fokus ke Point of Interest yang sebenarnya kita incar. Kita juga tidak perlu lagi meng-cropping foto karena tidak ada lagi space yang sia-sia.

Keempat, lensa tele sekaligus juga bisa menjadi lensa portrait, karena biasanya wajah peserta festival merupakan bagian paling menarik untuk difoto. Namun lensa tele juga masih fleksibel untuk mengambil foto yang lebar asal kita bisa mengatur jarak.

Lensa tele memungkinkan kita memotret close up..

Kelima, lensa tele umumnya menghasilkan bokeh atau blur latar belakang yang bagus.

Dengan memahami sekurangnya lima kelebihan ini, kita tidak perlu khawatir lagi kalau pergi memotret festival cukup dengan membawa satu lensa tele saja.

Lensa tele memungkinkan blur latar belakang yang bagus.

Foto-foto ini saya ambil di Festival Unjuk Kabisa 7 Gunung di Bogor, Jakarnaval di Jakarta, Festival Dugderan di Semarang, dan Festival Lembah Baliem di Wamena. Semuanya difoto dengan lensa Nikkor di atas. [T]

 

BOKS:
12 Tips Memotret Festival

Fotoin kita dong Kakak.

  1. Siapkan batere kamera, batere flash, dan kartu memori yang cukup
  2. Siapkan flash tambahan (untuk kamera DSLR). Lebih bagus lagi jika flash ini bisa didongakkan baik vertikal maupun horizontal.
  3. Portabilitas dan keleluasaan bergerak sangat penting. Tidak perlu membawa tripod atau banyak lensa tambahan. Satu lensa yang sudah terpasang di kamera, plus satu lensa fixed (kalau Anda orangnya khawatiran lensa bakal rusak) sudah cukup
  4. Kenakan pakaian yang menyerap keringat, karena kita akan banyak bergerak. Jangan memakai sepatu yang masih baru, karena kaki akan mudah lecet
  5. Ada baiknya makan dan minum secukupnya dulu, dan sudah ke toilet sebelum liputan
  6. Bawa air kemasan dan cemilan padat kalori seperti cokelat, untuk menyuplai energi. Memotret festival menguras banyak keringat dan energi
  7. Setlah kamera ke mode P (Program) atau Auto. Sebaiknya jangan mengeset kamera ke mode Manual. Mendapat sebanyak mungkin momen/gambar dari mode P atau Auto jauh lebih penting daripada berulangkali mengubah bukaan lensa dan kecepatan shutter.
  8. Datanglah lebih awal, sebaiknya 1 jam sebelum karnaval mulai bergerak, agar bisa mempelajari medan dan bisa mencari spot yang bagus untuk memotret
  9. Potretlah sebanyak mungkin saat peserta masih ‘statis’, dalam arti festival belum bergerak, agar memperoleh gambar-gambar tunggal yang bagus dan ‘bersih’, tidak banyak latar belakang yang mengganggu. Mintalah mereka untuk bergaya karena pada saat ini mereka juga ingin difoto
  10. Untuk karnaval, potretlah mulai dari ujung barisan belakang, maju hingga mencapai ‘kepala’ barisan. Jangan sebaliknya, karena nanti kita akan keteter saat karnaval mulai bergerak
  11. Potretlah tokoh yang menjadi ‘maskot’ di festival atau karnaval itu. Potret juga penonton dan hal-hal menarik yang ada di festival.
  12. Toleransilah dengan sesama fotografer dan juga para penonton. Jangan menghalangi pandangan penonton atau fotografer lain yang sedang memotret – nanti Anda dikutuk!
Advertisements
Standard
Diary

Menjelajah 12 Destinasi Instagrammable di Kaki Langit

Bagaimana ceritanya sebuah desa bisa punya begitu banyak spot wisata yang semuanya asyik untuk foto-foto? Saya mencoba menelusurinya selama tiga hari, dan ternyata waktunya masih kurang!

Watu Goyang 20181027_172105 lowres

Cuaca mendung di Watu Goyang, tapi apa salahnya foto dihitamputihkan untuk posting di instagram.

Langit di ufuk timur yang terhalang ranting-ranting pohon jati yang meranggas di depan Homestay Joyo tempat saya menginap itu tampak mulai terang. Kepanikan pun mulai merambat dalam diri saya. Pasti bakal telat nih mengejar sunrise dan kabut di Kebun Buah Mangunan! Padahal ini baru pukul 5 pagi. Tapi kok langit sudah terang begitu ya?

Watu Goyang 1 lowres

Sore yang berbunga-bunga di Watu Goyang.

Untungnya dua pengojek yang kami tunggu, Mas Kencrung dan Pak Parman, segera muncul. Mereka memang sudah kami beritahu tadi malam untuk menjemput saya dan Mas Johan, teman seperjalanan, sehabis subuh ini. Mereka bukan pengojek, melainkan dua staf sekretariat Desa Wisata Kaki Langit -nama keren atau ‘brand‘ untuk destinasi wisata Desa Mangunan- yang menawarkan diri untuk mengantar kami berkeliling, setelah tahu kami tidak membawa kendaraan sendiri.

Watu Goyang 20181027_172327 lowres

Pemandu wisata lokal sudah mulai banyak untuk membantu para turis yang perlu informasi lebih.

Kemarin sore mereka sudah mengantar kami untuk melihat sunset dan kompleks makam para sultan Mataram di Imogiri dari ketinggian di Batu Goyang. Meski kami kurang beruntung karena langitnya mendung, tapi saya menikmati sekali suasana sejuk dan berangin di bukit itu, dan berhasil menggoyangkan dua batu besar yang saling menumpuk di bibir puncak bukit. Sungguh ajaib, kedua batu itu tidak menggelundung ke lembah sana, meskipun sudah digoyang-goyang oleh para wisatawan, entah sudah berapa ribu kali.

Memanfaatkan Bukit, Jurang, dan Lembah

Langit sudah benar-benar terang ketika kami sampai di pintu masuk Kebun Buah Mangunan. Setelah membayar tiket masuk Rp 6.000 per orang, ternyata kami masih harus masuk agak jauh lagi untuk sampai ke ujung bukit, tempat untuk memandang kabut. Kebun buahnya sendiri tak tampak seperti kebun buah karena tidak ada pohon yang tengah berbuah di akhir Oktober ini.

Kebun Buah 20181028_051632 lowres

Setia menunggu kabut yang tak kunjung datang.

Ini Minggu pagi dan undak-undakan yang menurun hingga ke bibir bukit yang hanya dipagari bambu itu ramai sekali oleh para pengunjung yang sebagian besar anak-anak muda generasi milenial. Mereka sibuk berfoto-foto, atau duduk-duduk di undakan dan beberapa gazebo, menunggu matahari yang belum muncul, dan belum tahu juga dari arah mana akan muncul. Dan, oh iya, di mana gerangan kabutnya, yang menjadi ikon di foto-foto instagram tentang tempat ini?

Sepertinya saya tidak beruntung kali ini. Lembah curam di depan pagar bambu itu bisa saya lihat dengan jelas, dengan sungai yang menyisakan sedikit airnya, mengular hingga menghilang di balik bukit di depan sana. Rumah-rumah di Desa Sriharjo yang ada di lembah juga terlihat dengan jelas. Entah bagaimana caranya bisa ke desa itu, karena lembah di bawah sana itu dalam sekali dan tidak mungkin turun dari bukit ini. Pasti memakai jalan memutar.

Matahari yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul dari balik kabut tipis dan ternyata sudah cukup tinggi, dari arah kiri kami, terhalang dahan dan ranting-ranting pohon jati yang meranggas. Ooh, berarti mungkin dari spot ini yang dicari itu kabutnya, bukan sunrise-nya.

“Biasanya kabut tebal muncul saat musim hujan, Mas. Sekarang ini di Mangunan belum sekalipun hujan,” terang Pak Parman, lelaki berambut putih yang saya taksir usianya sekitar 65 tahun itu.

Kami pun memutuskan untuk pindah ke lokasi foto-foto yang lain. Setelah hampir setahun ini mem-branding diri dengan nama ‘Desa Wisata Kaki Langit’, Mangunan, yang berada di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul ini punya sekurangnya 12 destinasi wisata digital di berbagai sudut desa, plus di Desa Muntuk yang menjadi tetangganya. ‘Destinasi digital’ ini maksudnya adalah destinasi yang heboh di dunia maya, viral di medsos, dan ngehits di instagram. Sejak setahun lalu Kementerian Pariwisata RI menggaungkan kampanye ini dan punya target membuat 100 destinasi digital di seluruh Indonesia untuk menggaet lebih banyak lagi wisatawan.

Selain Kebun Buah Mangunan dan Watu Goyang, masih ada Jurang Tembelan, Bukit Mojo, Bukit Panguk, Watu Lawang, Watu Mabur, Pintu Langit, Lintang Sewu, Puncak Becici, Hutan Pinus, serta Watu Sewu daaan… Rumah Hobbit! (Kemudian saya tahu, spot hutan pinusnya pun ada empat: Hutan Pinus Mangunan, Pinus Sari, Pinus Asri, dan Pinus Pengger. Dua yang terakhir ini masuk Desa Muntuk). Belum dihitung Pasar Kaki Langit yang digagas Genpi Jogja, yang buka setiap Sabtu dan Minggu pagi pukul 6 hingga 12. Lalu ada wisata kuliner, wisata jelajah desa dengan jip, dan wisata kerajinan.

Bagaimana sebuah desa bisa punya spot wisata sebanyak itu, dan bagaimana saya akan bisa menghabiskannya dalam waktu 3 hari 2 malam ini, nantilah dipikir sambil jalan. Kalau bisa sih kami jelajahi semuanya!

Jurang Tembelan IMG_20181028_065517 lowres

Berpakaian dengan warna mencolok mencegah model tersamar dari latar belakang.

Pilihan destinasi berikutnya adalah ke Jurang Tembelan, yang tak jauh dari kebun buah ini. Hanya 5 menit berkendara, kami pun sampai. Tiket masuknya hanya Rp 2.500, dan harga yang sama juga berlaku untuk destinasi-destinasi lainnya. “Yang berbeda cuma di kebun buah tadi, karena dikelola oleh Dinas Perkebunan, bukan oleh desa,” terang Mas Kencrung yang memboncengkan Mas Johan.

Segera saya bisa melihat persamaan dan perbedaan Jurang Tembelan dengan Kebun Buah Mangunan. Keduanya sama-sama berada di bibir bukit, menghadap ke lembah dengan sungai meliuk yang sama. Jadi kalau di sana tidak ada kabut, di sini juga pasti tidak ada. Dari pinggir jurang ini saya bisa melihat spot kebun buah itu. Bedanya hanya sudut bukitnya saja yang kali ini menghadap selatan, dan adanya beberapa spot foto untuk swafoto, tidak ‘kosong’ seperti di kebun buah tadi.

Tembelan IMG_20181028_070306 OK lowres

Gaaasss!

Di bibir bukit, dari barat ke timur berjejer beberapa spot foto yang unik, mulai dari Kapal Titanik (memang pakai ‘k’) dari bambu, pesawat Perang Dunia I, pohon menara pandang, platform beton di pinggir bukit yang menurun, dan Kapal Titanik lagi. Karena letaknya di bibir bukit, berfoto-foto di sini serasa berada di awang-awang. Bayangkan kalau kabutnya tebal dan ‘menyangga’ spot-spot foto ini, pasti terlihat lebih fantastis. Apalagi kalau yang memotret pintar mengambil angle dan yang jadi model juga bisa bergaya serta memakai properti yang mendukung.

Saya mengamati, kalau ingin berfoto di sini, sebaiknya memakai baju atau terusan yang berwarna cerah seperti merah, pink, atau putih. Ini akan membuat si model tampak menonjol dan kontras dengan latar belakangnya yang cenderung berwarna hijau tua atau cokelat kusam. Kalau memakai baju warna hitam, biru tua, abu-abu, atau kombinasi dua warna yang tidak senada, ya, sayang sekali.

Karena saya dan Mas Johan termasuk generasi late baby boomers dan tidak ingin denial dengan berusaha menjadi milenial, kami duduk-duduk saja sambil memperhatikan rombongan turis dari Malaysia yang dari tadi tidak berhenti berswafoto. Saya berdecak, yang mengkreasi tempat ini pasti orang atau tim yang kreatif sekali dan punya selera humor tinggi. Di sandaran bangku kayu yang saya duduki ada tertulis ‘Kamu mau enggak jadi pacarku‘. Di bangku lainnya ada tertulis ‘Elek yo been sing penting marai kangen‘ (Jelek biarin aja yang penting bikin kangen), dan ‘Jodohku lagi OTW‘ (Jodoh saya sedang dalam perjalanan). Wkwkwkwk! Saya dan Mas Johan sampai sakit perut.

Tembelan IMG_20181028_063309 lowres

Mau nggak?

Waktu baru menunjuk pukul 7.30 ternyata. Di Pasar Kaki Langit mungkin sekarang sudah ramai orang berjualan. Tapi kami baru akan berkunjung pukul 9 nanti sekalian sarapan pagi, jadi kami pindah spot lagi. Kali ini ke Hutan Pinus Mangunan.

Jurang Tembelan IMG_20181028_063809 lowres

Ada yang tak sengaja tertangkap kamera.

Lokasi destinasi-destinasi digital di Mangunan ini cukup berjauhan, jadi lebih efektif dijangkau dengan sepeda motor atau mobil pribadi, atau ikut paket tur jip yang dikelola desa ini juga. Biaya tur jip Rp 350.000-700.000 tergantung jumlah destinasi yang dikunjungi. Yang hobi bersepeda juga boleh uji kemampuan dan stamina di sini, karena kontur jalannya yang turun-naik. Yang patut dipujikan adalah, semua jalan yang kami lalui mulus seperti baru diaspal kemarin.

Hutan Pinus IMG_6443 lowres

Spot paling colorful di Hutan Pinus Mangunan.

Hutan Pinus Mangunan rupanya menjadi tempat piknik favorit para keluarga. Sepagi ini sudah ramai dengan anak-anak bermain ayunan dan perosotan, maupun keluarga-keluarga yang menggelar tikar dan membuka bekal piknik mereka, ataupun duduk mengelilingi meja kayu yang tersebar di beberapa sudut. Kalau tidak suka keramaian, di bagian yang paling tinggi di ujung hutan ini ada taman bunga celosia yang berwarna-warni dan instagrammable banget, dengan kursi-kursi dan meja kayu serta menara pandang yang menghadap… lembah dengan sungai meliuk tadi. Sepertinya Mangunan memang dilingkari bukit dan sungai ini, menjadikannya punya lansekap yang unik dan makin cantik dengan sentuhan kreativitas pengelola tempat wisatanya.

Hutan Pinus 1 lowres

Mumpung latar belakangnya bersih meski lagi banyak pengunjung di sini.

Kami sempat melongok ke amfiteater dan panggung hutan yang terletak di seberang jalan hutan pinus ini, dan mendapati hutan pinus mini ini justru lebih cantik, dengan bangku-bangku kayu bersusun rapi bertingkat, dan sebuah panggung di ujung paling bawah. Sayang, di sini justru tidak ada pengunjung sama sekali, jadi tidak ada ‘model’ untuk difoto. Kalau tidak ada manusianya, tempat ini jadi terasa kosong dan ada yang kurang. Lain kali kami akan membawa teman jalan wanita yang mau difoto-foto ah.

Pasar Milenial atau…?

Pasar Kaki Langit, yang terletak di belakang sekretariat desa wisata, lokasinya bersebelahan dengan amfiteater mini dan Sendang Mangunan, serta diapit homestay-homestay bergaya joglo. Jadi sebenarnya cuma 1 menit berjalan kaki dari Homestay Joyo tempat kami menginap. Pagi itu hampir separuh makanan tradisional yang dijual sudah habis. Wow, sepertinya kami telat datang nih. Kayaknya nggak sampai pukul 12 nanti warung-warung ini bakal tutup.

Pasar ini kira-kira seluas lapangan futsal, dengan warung-warung dari bambu yang tampak masih baru, meski sebenarnya sudah beroperasi sejak Desember 2017 lalu atas inisiatif Genpi Jogja. Sebelum makan, kami mesti menukar uang kami dulu di gubug Lurah Pasar, yang dijaga seorang bapak berbadan tambun berpakaian tradisional Jogja, lengkap dengan blangkonnya.

IMG-20181106-WA0014

Pak Parman menggantikan lurah pasar yang mendadak ada acara.

Pak Lurah menyediakan koin uang kayu yang bernominal 1, 2, 5, dan 10, dengan kantongnya. Angka 1 setara dengan Rp 1.000. Saya menukar Rp 50.000 (yang ternyata setelah dipakai berdua masih tersisa Rp 15.000).

Koin 1 lowres

Koin yang tersisa bisa ditukar kembali dengan uang. Tapi kantongnya jangan dibawa, hahaha!

Yang dijual di sini makanan tradisional rumahan seperti nasi gudeg, bledak (nasi jagung), thiwul (pengganti nasi dari singkong parut yang dikukus), tumis-tumisan, camcao (cincau) dan kopi kampung. Makanan keringnya seperti rengginang, thiwul panggang, dan paket wedang uwuh. Itu lho, minuman tradisional Jogja semacam teh tapi terdiri dari beberapa jenis bahan seperti kulit secang, daun cengkeh, daun pala, kayu manis, jahe, plus sebongkah gula batu. Tinggal seduh dengan air panas, bahan-bahan itu pun mengembang dalam gelas, seraya mengeluarkan aroma harum dan warnanya yang merah muda keemasan. Sekali mencoba, dijamin ketagihan deh. Saya sudah pernah mencoba dan suka, jadi saya beli saja satu kemasan besar berisi lima paket kecil wedang uwuh yang sudah lengkap dengan gula batunya, hanya Rp 20.000 di warung Mbak Wanti – yang beberapa detik kemudian saya baru tahu kalau dia itu istrinya Mas Kencrung, hahaha!

IMG-20181106-WA0021

Sarapan pagi yang berat dengan bledak (kanan) dan teman-temannya.

Sambil menikmati bledak yang ternyata padat sekali -terlalu banyak untuk ukuran perut saya yang kecil- saya melihat bahwa yang datang ke pasar ini hampir semuanya pasangan ‘zaman old‘ yang tampaknya ingin bernostalgia dengan makanan desa atau makanan masa kecil mereka. Yang generasi milenial malah nggak nampak di sini.
“Biasanya anak-anak muda itu langsung ke tempat foto-foto, Mas. Mereka makan di warung-warung di situ juga,” tutur Wanti. “Kalau sudah dari sana mereka nggak mampir ke sini tapi langsung lewat saja.”

IMG-20181106-WA0012

Baru pukul 10 tapi banyak makanan yang sudah habis.

Well, ini mungkin sebuah masukan juga buat para penggagas pasar digital, bagaimana caranya mendorong anak-anak muda itu supaya mau mampir dan mencicipi makanan dan minuman tradisional khas daerah mereka sendiri, bukan lagi-lagi makan mi instan dan kopi sachet.

IMG-20181106-WA0013

Salah satu cara memperpanjang masa konsumsi thiwul.

Satu hal yang unik dan patut dicontoh dari Pasar Kaki Langit ini adalah, yang boleh berjualan di sini hanya penduduk yang tidak punya homestay. Jadi yang punya homestay tidak boleh buka warung, sebagai wujud pemerataan penghasilan. Ini sesuai dengan semangat kata ‘kaki langit’ juga. Selain bermakna horizon -yang cocok dengan lansekap bukit-bukit di Mangunan yang memberi pandangan hingga jauh sekali- Mas Khoirudin yang memegang akun instagram @kakilangit_mangunan dan website dewikakilangit.com, juga punya penjelasan lain.

“Kaki Langit mengandung makna ‘kaki’ yg artinya berdaya, bergerak, dan membangun bersama. Sementara ‘langit’ bermakna tinggi, yaitu cita-cita untuk membangun hidup yang lebih baik.”

Melukis Api ala Mas Ilul

Kami kedatangan teman jalan yang lain, Mas Dudi, yang menyusul dari Jakarta, dan menginap bareng kami di Homestay Joyo. Di siang yang terik di ujung kemarau ini, yang menjadi surga di sini setelah makan kenyang adalah mengambil bantal dan tiduran di kursi kayu panjang di beranda bergaya joglo ini.

Homestay yang dimiliki Pak Karyadi dan Bu Jumilah ini punya empat kamar tidur dan tiga kamar mandi, salah satunya punya shower air hangat. Homestay ini dan dua homestay lainnya sudah berdiri sejak 5 tahun lalu, sebelum ada desa wisata. Saat itu tujuannya untuk memenuhi kebutuhan menginap para pejalan dan siswa sekolah yang berwisata ke kebun buah dan kesulitan mencari tempat menginap.

“Sekarang sudah ada 25 homestay, dan tarifnya disamakan, Rp 150.000 per kamar untuk dua orang,” jelas Pak Karyadi, yang tinggal di rumah bagian belakang dan membuka warung kelontong di samping rumah. Tarif tadi tidak termasuk sarapan, tapi termasuk free-flow kopi, teh, dan cemilan lokal. Untuk extra bed cuma tambah Rp 50.000. Berandanya sendiri bisa menampung hingga 30 orang, cocok buat yang datang ramai-ramai dan mencari biaya yang lebih murah-meriah.

Pukul 2 siang, Pak Parman, Mas Kencrung dan anaknya Sigit, sudah siap di depan homestay. Kami mau melihat kerajinan melukis api seperti yang tadi dipromosikan Mas Kencrung.

Wow, melukis api? Seperti apakah itu?

Melukis Api 2 lowres

Bermacam bentuk kepala pena api alias burner ciptaan Mas Ilul.

Ternyata, yang dimaksud melukis api adalah seni melukis dengan menggunakan bara api dari ujung alat yang mirip solder. Untuk membuat bara itu sendiri memakai arus listrik rumah yang diubah menjadi arus searah. Penanya sendiri dibuat oleh Mas Ilul melalui proses coba-ralat berulangkali dari hasil melihat di Youtube. Seni ini sendiri masih langka, dan di Jogja ini menurutnya baru dia dan satu orang lagi di Gunung Kidul yang mendalami seni ini, dengan alat yang sedikit berbeda. Media lukis atau kanvasnya dari talenan kayu mahoni yang murah dan banyak terdapat di Mangunan.

View this post on Instagram

MELUKIS API. Dari 25 homestay yang ada di Desa Wisata Kaki Langit di Mangunan, Bantul, Homestay Sahara cukup unik. Selain karena lokasinya yang asri dan sepi, pemiliknya Mas Ilul punya keterampilan yang langka, yakni Melukis Api. Maksudnya, melukis dengan menggunakan bara api dari ujung pena yang mirip alat solder. Untuk menghasilkan bara itu menggunakan arus listrik rumah yang diubah menjadi arus searah. Sedangkan untuk menciptakan pena dan rangkaian listriknya sendiri perlu coba-ralat berulangkali. Apalagi Mas Ilul mengaku takut dengan listrik akibat pernah kesetrum. Media lukis atau kanvasnya dari kayu mahoni. Setiap tamu yang menginap boleh belajar seni lukis yang mirip mencanting batik ini. Cukup dengan waktu 1 jam mulai dari bikin sket memakai pensil, lalu membuat garis dan arsirannya dengan pena bara api ini, kita bisa membuat lukisan yang bagus. Hasil lukisnya boleh dibawa pulang. Kalau mau beli paket alat lukisnya juga boleh. Satu set terdiri dari 3 jenis pena plus 1 adaptor listriknya Rp 1,5 juta. Untuk info menginap atau belajar lukis api, kontak sekretariat Desa Wisata Kaki Langit di 0896-7194-9839 atau @kakilangit_mangunan. @kangdudi_ @johan.alwi.5 @genpijogja Music: Happy by MBB [Royalty Free Music] https://soundcloud.com/mbbofficial #lukisapi #melukisapi #pyrography #woodpainting #homestaysahara #kakilangit #kakilangitmangunan #desawisata #desawisatakakilangit #destinasidigital #genpijogja #wisatajogja #wonderfulindonesia

A post shared by Teguh Sudarisman (@teguhsudarisman) on

Uniknya, pria yang punya nama asli Fahlul Mukti dan pernah kuliah di Institut Seni Indonesia di Jogja ini menganggap keterampilannya itu sebagai hobi. Pekerjaan utamanya adalah mengelola Homestay Sahara bersama istrinya Tuti, dan memelihara beberapa ekor sapi.

Ilul 2 lowres

Mas Ilul dan karya-karya lukis api para wisatawan yang pernah menginap di Homestay Sahara.

Jadi, setiap tamu yang menginap di Mangunan boleh belajar seni lukis yang mirip mencanting batik ini. Cukup meluangkan waktu 1 jam mulai dari membuat sket memakai pensil, lalu menebalkan garis dan arsirannya dengan pena bara api ini, kita bisa membuat lukisan yang bagus. Ya, tentu saja kalau kita juga punya bakat melukis, hahaha!

Ini hasil lukisan saya, yang boleh dibawa pulang buat kenang-kenangan. Dari gambar lukisannya, tahu kan kira-kira saya generasi dari zaman kapan?

Melukis Api 1 lowres

Cuma orang Indonesia yang lukisannya seperti ini.

Superb Sunset

Matahari telah tergelincir ke barat dan sinarnya yang kekuningan mengiringi kami yang bergegas konvoi motor menuju Puncak Becici untuk melihat sunset. Kami melewatkan dulu spot Pintu Lawang yang akses jalannya dekat Homestay Sahara ini.

Ternyata lokasi Puncak Becici cukup jauh. Kami melewati spot Seribu Batu dan Rumah Hobbit, Hutan Pinus Mangunan, Pinus Asri, Lintang Sewu, dan Pintu Langit. Ya, kalau kami mampir tiap spotnya cuma 5 menit mungkin bisa sih berhenti dulu di tiap spot itu. Tapi itu sesuatu yang tidak mungkin karena kami bertiga hobi motret dan suka lupa waktu kalau sudah menemukan angle yang bagus. Jadi kami memilih satu dulu yang kata Pak Parman paling bagus.

Becici 2 low

Spot foto yang jadi rebutan sejuta umat.

Tampaknya kami mesti berjibaku untuk berebut spot memotret karena Puncak Becici ini ramai sekali oleh turis-turis domestik dan mancanegara. Keramaian sudah terasa sekali begitu sampai di pintu masuk hutan pinus dengan warung-warung makannya yang berderet menawarkan aneka menu. Kami mesti jalan kaki dengan agak menaik dulu selama 10 menit, antre dengan para pengunjung lain yang tampaknya ingin berfoto-foto di titik tertinggi dengan papan nama ‘Puncak Becici’ dan lembah luas pemandangan kota Jogja di belakangnya. Alhasil, sambil menunggu sunset, kami akhirnya lebih banyak memotret para pengunjung yang datang.

Becici 3 low

Di bawah sini tak kalah cantik.

Ada tiga spot foto lain di dekat papan nama ini, dan saya justru mendapat foto sunset yang bagus di pohon menara pandang yang agak di bawah, pas ketika matahari sudah hampir tertutup awan.

After sunset atau blue hour-nya kali ini juga keren sekali dan lama, sehingga kami baru beranjak pulang setelah gemerlap lampu-lampu kota Jogja menyala sempurna dan angin dingin mulai bertiup. Itu saja masih banyak pengunjung yang baru naik ke tempat kami. Hebat sekali.

Becici IMG_6528 OK lowres

Masing-masing sibuk dengan ponselnya.

Kami menuntaskan hari dengan menjadi kustomer terakhir yang makan malam di Resto Ayam Kampung dan Thiwul Bu Sum. Tak lupa saya membeli Thiwul Keju dan Thiwul Cokelat (ada lagi Thiwul Gula Pasir dan Thiwul Gula Merah) yang fresh from the oven dan per boks hanya Rp 10.000, untuk camilan teman lembur nanti malam. Tapi akhirnya saya tidak sempat lembur apalagi icip-icip thiwulnya karena langsung pulas begitu sampai di homestay.

Becici IMG_6568 lowres

Makin malam makin dingin (atau panas?) di Puncak Becici.

Kuda Terbang dan Kereta Kencana

Hari ketiga atau terakhir, lagi-lagi kami bangun sebelum subuh karena kali ini kami akan mengejar sunrise di Bukit Panguk. Lokasinya ternyata paling jauh dibanding spot-spot wisata yang lain, dan kami sampai di lokasi begitu langit sudah terang. Untungnya matahari belum muncul.

Segera kami menemukan kesimpulan: tipikal lokasinya sama dengan Jurang Tembelan, lengkap dengan beberapa platform untuk foto-foto. Bedanya, Bukit Panguk menghadap ke timur, jadi sangat cocok sebagai tempat berburu sunrise. Ditambah, tanahnya yang berhias pohon-pohon jati sudah ditata dengan batu-batu kapur sehingga makin cantik dan rapi. Beberapa anak muda rupanya berkemah semalam di sini dan mereka pun bersiap-siap untuk memotret sunrise – atau berswafoto dengan latar belakang sunrise.

Spot foto yang paling bagus di sini menurut saya adalah objek kereta kencana dengan kuda terbangnya, yang cuma bayar Rp 3.000 untuk berfoto-foto sepuas mungkin, kalau tidak ditunggu pengunjung yang lain.

Bukit Panguk 1 LOWRES

Jangan sampai lepaskan spot ini sewaktu di Bukit Panguk.

Saya membuat video timelapse dengan ponsel di spot ini, sambil memotret-motret dengan kamera. Alhamdulillah dapat foto bagus dengan latar belakang matahari bulat yang baru muncul. Tapi video timelapse-nya miring dan banyak ‘bocornya’ karena para pengunjung berlalu-lalang atau berhenti di depan saya untuk antre foto, hahaha!

Panguk IMG_6715 lowres

Kakak Roz dari Malaysia hendak terbang.

Karena masih satu arah, kami mampir ke Bukit Mojo, melewati jalan beton yang masih baru, dan pemandangan Desa Gumelem di pinggir jalan yang aduhai asri dan tenangnya, yang memaksa kami untuk berhenti dan mengambil gambar.

Bukit Mojo lowres

Maaf saya baru merangkak dari jurang di bawah. Wkwkwkwkwk!

Tapi Bukit Mojo-nya sendiri sepi dan penjaganya baru datang begitu kami hendak pulang. Karena bukit ini menghadap ke barat, akan lebih cocok kalau ke sini sore menjelang sunset.

Hobbit Jalan-jalan? Ke sini!

Kini tinggal destinasi terakhir yang akan kami kunjungi sebelum check out, dan pilihannya jatuh ke… Seribu Batu dan Rumah Hobbit. Ini satu lokasi dan ternyata tempatnya malah yang paling dekat dari homestay, sekitar 2 menit berkendara.

Hobbit IMG_6788 lowres

Selamat datang di Hobbiton made in Bantul.

Saya tidak sempat menghitung jumlah batunya apakah benar seribu atau tidak karena suasana lansekap tempat ini membuat saya langsung terpesona. Keteduhan, kerapian penataan objek-objek fotonya, sampai ke warung-warung penjual makanan dan musala serta toiletnya, begitu rapi seperti ditata oleh ahli lansekap profesional. Bahkan daftar harga makanannya dipampangkan di banner yang cukup besar sehingga para pengunjung tidak perlu bertanya-tanya harga lagi di setiap warung.

Sebuah jembatan kayu yang disebut Jembatan Jomblo (hahaha!) langsung mengarah ke dua Rumah Hobbit yang berjejer dan berwarna-warni. Di samping kanannya, dua buah batu raksasa memisahkan rumah ini dengan dua deret rumah kayu dengan jalan di tengahnya yang menaik, dan sudah jelas jadi kerumunan pengunjung karena ini bisa jadi latar belakang yang sempurna untuk foto instagram.

Hobbit IMG_6812 lowres

Generasi zaman old yang denial pingin kayak milenial.

Akhirnya kami memilih berfoto-foto di Rumah Hobbit yang di sisi kanan, dan mendadak saya kok kepikiran, kapan bisa punya rumah model kayak gini. Di depan pagar rumah ada kotak surat bertuliskan Hobbiton, lalu undak-undakan batu dengan kursi kayu di kanan kirinya, lalu dua patung manusia pendek mengapit pintu bulat, dan dua jendela di kanan-kiri yang juga berbentuk bulat. Rasanya nggak perlu lagi pergi jauh-jauh ke Rumah Hobbit di Selandia Baru. Di sini pun damainya sama.

Hobbit IMG_6820 lowres

Jangan sedih, Bit, aku kan kembali!

Meski belum puas karena belum bisa eksplor semua 12 destinasi digital di sini -bahkan di Rumah Hobbit ini belum kami jelajahi semua- kami bertiga mesti beranjak dari sini karena siang nanti kami akan ke Magelang.

Menuntaskan perjalanan kami di Kaki Langit dan merayakan pertemanan baru dengan tiga driver setia kami, kami pun makan sate dan tongseng kambing yang endess banget di warung Mbak Sumikem, arah ke kota kecamatan Dlingo.

Sampai berjumpa lagi Kaki Langit, segera! [T]

BOKS:
Menuju Kaki Langit

Menuju Kaki Langit

Jip-jip sudah siap di depan homestay. [Dok. Sekretariat Desa Wisata Kaki Langit]

Desa Mangunan terletak 22 kilometer tenggara Jogja, di pinggir jalan raya menuju Wonosari, Wonogiri. Sangat mudah mencapai tempat ini kalau memakai sepeda motor atau mobil pribadi, karena namanya sudah ada di Google Maps. Begitu juga memakai bus antarkota, tinggal mencari jurusan Wonosari di Terminal Giwangan Jogja.

Memakai ojek motor atau mobil online juga bisa dari Jogja. Dengan Gojek/Grabbike bayar sekitar Rp 45.000. Kalau memakai Gocar/Grabcar bayar 1,5-2 kali lipatnya, dan lebih ekonomis jika jalan bareng bersama teman-teman. Untuk menginap, para staf di sekretariat Kaki Langit seperti Mas Khoirudin (0896-7194-9839) atau Mas Kencrung (0818-0417-1750) bisa membantu memesankan homestay. Kalau berencana menginap di akhir pekan, memesan jauh hari sangat disarankan. Di hari kerja, Anda lebih leluasa memilih homestay yang mana.

Sinyal ponsel yang paling kuat Telkomsel. Sinyal operator lain kadang kurang bagus saat di homestay atau di spot wisata. Untuk menjelajah semua spot wisata Kaki Langit, pilihannya bisa ojek, jip, atau menyewa mobil di Homestay Joyo (Rp 350.000 per hari). Ojek belum punya tarif resmi, tapi patokannya sekitar Rp 75.000-100.000 per hari.

Standard
Diary

10 Destinasi Wajib Kunjung di Swiss van Java

Dibanding Bandung, Garut tidaklah crowded, serta menawarkan banyak tempat unik dan aktivitas asyik untuk dikunjungi, bahkan saat weekend.

Kampung Sampireun di waktu pagi

Kampung Sampireun di waktu pagi, dengan danau yang kehijauan, perahu, dan ikan-ikan mas.

Selalu menyenangkan untuk kembali dan kembali lagi ke Garut. Apalagi jaraknya tidak jauh, hanya sekitar 3-4 jam naik bis umum dari Jakarta. Sebagian orang suka dengan dodolnya yang sudah menjadi trade-mark Garut sejak lama. Yang lain suka dengan suasana resor Kampung Sampireun yang asri dan benar-benar ‘Sunda’. Saya sendiri lebih suka Cipanas, di mana deretan penginapan, resor, hingga fasilitas umum semuanya menawarkan keasyikan yang sama: air panas alami yang membuat badan jadi relaks.

Yakin deh, kalau cuma sekali saja ke sana saat akhir pekan, daftar tempat di bawah ini nggak akan bisa semuanya dikunjungi. Apalagi kalau ditambah hingga ke Pantai Pamengpeuk atau Pantai Santolo di ujung selatan Kabupaten Garut, yang perlu waktu 2-3 jam sendiri dari kota Garut.

1. Situ dan Candi Cangkuang

Ini obyek wisata pertama yang akan dijumpai, beberapa kilometer sebelum kita masuk ke kota Garut. Situ (danau) Cangkuang dengan sebuah candi Hindu di pulau di tengahnya ini  sebenarnya tempat wisata untuk ‘orang biasa’ yang hendak berziarah. Tapi asyik juga kalau kita mampir untuk menikmati keunikan rakit penyeberangannya. Rakit bambu ini panjangnya sekitar 30 meter, dan bisa mengangkut puluhan orang. Sambil menyeberang, iringan musik dari grup pengamen menemani kita menikmati panorama sekitar danau. Usahakan datang ke sini pagi sekitar jam 8-9.

Danau Cangkuang dan latar belakangnya yang bikin sejuk mata

Danau Cangkuang dan latar belakangnya yang bikin sejuk mata.

Candi Cangkuang, yang ada di tengah danau, diperkirakan berasal dari abad ke-8. Di dalamnya ada arca Dewa Shiwa berukuran kecil, sedang bersila di atas lembu Nandi. Uniknya, di samping candi ini terdapat makam Embah Dalem Arif Muhammad, yang menyebarkan agama Islam di daerah ini pada abad ke-17. Ia mempunyai keturunan 6 anak perempuan dan 1 laki-laki. Rumah-rumah anak perempuan yang semuanya enam, bentuknya rumah semi-panggung, mengelilingi sebuah masjid kecil, membentuk sebuah kampung yang dinamakan Kampung Pulo. Jumlah rumah ini dipertahankan tetap enam, sehingga jika ada keturunan Embah Dalem yang membentuk keluarga baru, ia mesti keluar dari kampung ini.

2. Cipanas dan Gunung Guntur

Beberapa kilometer dari Situ Cangkuang, begitu sampai di Jalan Tarogong Raya, beloklah ke kanan begitu ada penunjuk jalan ke arah Cipanas. Sebagian besar orang yang berwisata ke Garut menginap di daerah ini, dan jarang sekali yang menginap di kota Garut. Alasannya sederhana: Cipanas mudah dijangkau angkutan umum, banyak tempat makan, dan terutama… sumber air panas alami yang melimpah.

Tersedia banyak tempat menginap mulai dari resor mewah seperti Kampung Sumber Alam (www.resort-kampungsumberalam.com), Hotel Danau Deriza, Tirtagangga, Sabda Alam, dan sebagainya, sampai penginapan murah bertarif 75 ribu per malam. Resor dan hotel-hotel ini memang rada susah booking-nya kalau mendadak, apalagi kalau weekend. Tapi kalau mau go show, tidak usah khawatir karena penginapan di sini banyak sekali, bahkan sampai masuk ke gang-gang.

Beginilah suasana resor Kampung Sumber Alam Cipanas

Beginilah suasana resor Kampung Sumber Alam, Cipanas.

Yang unik ya itu tadi, dari resor kelas atas sampai penginapan murmer ini, semuanya menyediakan fasilitas air panas mengandung belerang, langsung dari sumbernya. Pemandian-pemandian umum juga buka hampir 24 jam. Jangan heran kalau ada orang berenang jam 2 atau jam 4 pagi. Semuanya itu mungkin karena airnya panas. Cipanas juga tempat menginap favorit para pendaki yang hendak mendaki Gunung Guntur atau sekedar kemping di Curug Citiis, yang terletak di belakang penginapan-penginapan ini.

3. Masjid Art Deco

Letaknya memang agak jauh, di Dusun Cipari, Desa Cimaragas, Kecamatan Pangatikan. Kira-kira 45 menit berkendara ke arah timur laut dari kota Garut. Tapi kalau menyukai bangunan-bangunan bersejarah peninggalan zaman Belanda, pastinya mesti ke sini.

Masjid Cipari

Masjid Art Deco menyambut mentari pagi.

Bangunan masjid berwarna krem ini bentuknya memang aneh, bangunannya kotak memanjang. Tembok bagian bawah disusun dari pondasi batu kali, sedangkan bagian atasnya campuran pasir dan batu kapur, yang konon direkatkan memakai putih telur. Di atas jendela-jendela masjid ini ada ventilasi, yang dihiasi dengan garis-garis membujur mengelilingi bangunan, yang menjadi ciri gaya art deco, sebuah aliran arsitektur yang populer di era 1920-1930-an. Lampu-lampu gantungnya mirip dengan yang ada di film-film Perang Dunia II. Di atas pintu utama menjulang menara masjid setinggi 17 meter yang berbentuk kubah segi delapan. Di atasnya lagi ada tiang setinggi 8 meter, dengan lambang bulan sabit dan bintang. Konon masjid bergaya art deco ini hanya ada dua di Indonesia. Yang pertama masjid ini, yang kedua Masjid Sumobito di Mojowarno, Mojokerto, Jawa Timur.

Masjid Cipari dari kejauhan

Dari kejauhan sudah terlihat ciri khasnya.

Masjid yang berdiri tahun 1935 ini didesain oleh Ir. Abikusno Tjokrosuyoso, teman Ir. Soekarno. Sejak dulu masjid ini memang menjadi tempat rapat-rapat organisasi Sarekat Islam. Tak heran masjidnya pun bernama Masjid As-Syura (tempat bermusyawarah), hanya saja masyarakat lebih sering menyebutnya sebagai Masjid Cipari. Satu fakta unik yang lain, Kartosuwiryo, pemimpin pemberontakan DI/TII, dulunya termasuk salah seorang yang terlibat dalam pembangunan masjid ini.

4. Gunung Papandayan

Dari kota Garut ke selatan, kita akan sampai ke sebuah pertigaan. Yang ke kiri menuju Cikajang, ke kanan mengarah ke Gunung Papandayan. Meski puncak Gunung Papandayan ini cukup tinggi, 2.665 meter di atas permukaan laut, nggak usah jiper dulu. Nggak perlu naik sampai puncaknya, karena kawah-kawahnya yang keren tidak terletak di puncak, melainkan di pinggangnya, tak jauh dari tempat parkir kendaraan.

Kawah Baru Papandayan, dengan warna airnya yang eksotis

Warna air Kawah Baru Papandayan yang eksotis dan menyihir pengunjung.

Kawah Mas, Kawah Manuk, Kawah Nangklak, dan Kawah Baru –yang terbentuk dari letusan tahun 2003 lalu– tak henti-hentinya menggelegak dan mengeluarkan asap berbau belerang. Kalau status gunungnya bukan ‘Awas!’ (artinya berbahaya), asyik banget lokasi ini untuk berfoto-foto.

Bagi yang ingin melihat seperti apa view Gunung Papandayan, cek video yang dibuat oleh Youtuber Khairul Leon, di sini:

5. Curug Orok dan Sanghyang Taraje

Dari jalan utama sebelum masuk ke kawasan wisata Gunung Papandayan, kalau kita membelok ke kiri, maka sekitar 17 km kemudian, sampailah di pintu masuk Curug Orok, yang tersembunyi di area perkebunan teh PT Perkebunan Nusantara VIII, masuk ke kiri sekitar 200 meter dari jalan raya. Tidak sulit mencapai air terjun ini, karena telah disediakan undak-undakan dari tanah maupun beton. Namun, meski cantik dan ada beberapa air terjun, air terjunnya sendiri tidaklah besar. Kalau mau yang lebih besar dan spektakuler, teruskan perjalanan hingga pertigaan Pakenjeng, lalu membelok ke kanan sekitar 10 km lagi menuju Curug Sanghyang Taraje, tak jauh dari kantor Kecamatan Pamulihan.

Curug Sanghyang Taraje

Tidak banyak air terjun dengan aliran kembar bersisian seperti Curug Sanghyang Taraje ini.

Dinamakan Sanghyang Taraje (taraje = tangga) karena air terjun itu terdiri dari dua aliran air yang bersisian, dan dinding batu di antara keduanya berlapis-lapis seperti membentuk anak tangga. Cuma kalau musim hujan dan debit airnya sangat deras, lapisan batu itu tidak terlihat. Tinggi air terjunnya sekitar 75 meter, dengan suaranya yang menggemuruh. Kolam air di bawahnya konon sampai 30 meter, jadi jarang yang berani berenang di sini. Tapi menikmati gemuruh curug ini dari saung di dekatnya saja sungguh mengesankan.

Saat hendak pulang, kita akan mendengar lagi suara gemuruh air terjun di kiri jalan.  Memang masih ada dua lagi air terjun di sini, namanya Curug Utang dan Curung Sanghyang Santen. Tapi trekking menuju ke kedua curug ini sangat sulit karena harus menyusuri pinggir jurang. Jadi buat yang sudah berpengalaman dan punya nyali saja yang boleh ke sini.

6. Mulih ka Desa

Dari kota Garut menuju ke barat melalui Jalan Raya Samarang (bukan Semarang), kita mesti mampir ke Mulih ka Desa, yang punya motto ‘Makan dan Tidur di Sawah’. Resto yang terletak di jalan menuju resor Kampung Sampireun ini di awal berdirinya tahun 2005 hanya menyediakan saung-saung makan. Namun sejak tahun 2007 sudah ditambah dengan vila-vila untuk menginap. Saung-saung makannya ada di atas kolam ikan, sedangkan vila-vila bambunya benar-benar berada di tengah sawah.

Mulih ka Desa

Pelayan resto dengan pakaian tradisional sunda mengantarkan makanan ke saung-saung.

Di samping saung, ada kolam lumpur yang biasa dijadikan ajang tarik tambang kalau sedang ada kegiatan outbound, ataupun tempat anak belajar membajak sawah dengan kerbau. Ada pula kolam pancing, tanah lapang untuk bermain egrang, serta kebun sayur-sayuran organik.

Mulih ka Desa

Nasi yang wangi, lalapan, teh, petai, aaaahh!

Setiap malam, ada petugas ronda yang berkeliling membawa kentongan dan radio kuno. Lalu pagi-pagi, setelah sarapan, para tamu akan diberi alat untuk memancing belut. Anak-anak bisa ikut menanam padi, membajak sawah dengan kerbau, dan melihat-lihat proses masak di dapur, yang semuanya dilakukan dengan peralatan tradisional orang desa. Nggak heran kalau di akhir pekan resto ini selalu penuh pengunjung.

7. Kampung Sampireun

Kalau Kampung Sampireun, pastinya sudah tidak perlu diragukan lagi. Anthony Bourdain saja, si host acara travel No Reservations, pernah menginap di sini. Yang jelas, kesan pertama begitu memasuki resor di ketinggian 1.000 meter ini, adeeem banget! Maklum, selain letaknya di ketinggian, resor ini asri banget oleh pohon-pohon pinus dan bambu, dan di tengah resor ada Situ Sampireun yang berair hijau dengan ikan-ikannya yang tak henti berseliweran. Mengelilingi danau ini ada 22 bungalow bergaya panggung, mulai dari yang satu kamar hingga tiga kamar. Kalau pas ke sini buat honeymoon, jangan lewatkan untuk floating candle light dinner di rakit khusus di tengah danau.

Asyiknya bersampan pagi hari di Kampung Sampireun

Asyiknya bersampan pagi hari di Kampung Sampireun.

Setiap pukul 20.30 malam, staf resor akan mengunjungi vila satu-persatu memakai perahu untuk menawarkan minuman dan cemilan khas sunda. Begitu pula saat sarapan pagi. Bagi penggila spa, jangan lewatkan treatment Royal Heritage Spa yang ada di sudut resor, di dekat kolam renang.

8. Kawah Kamojang & Darajat

Sekitar 30 menit berkendara ke barat laut dari Kampung Sampireun, kita akan sampai ke kawasan Kawah Kamojang. Di kanan-kiri banyak bangunan pembangkit listrik, dengan pipa-pipa gasnya yang berukuran besar. Kawasan ini memang pusat pembangkit tenaga panas bumi, yang pertama di Indonesia malah, dan sudah beroperasi sejak zaman Belanda. Agak jauh di kompleks ini ada jalan menuju lokasi wisata Kawah Kamojang, meski perlu tanya-tanya ke orang karena petunjuk jalannya kurang jelas.

Kawah Hujan di Kamojang

Kawah Hujan di Kamojang – asyik buat foto-foto narsis.

Sebelum masuk pos tiketnya kita sudah disuguhi beberapa kolam kawah yang mengepul. Dengan berjalan kaki dari tempat parkir, sudah kedengaran dari jauh suara bising seperti kereta api uap. Tak lain, ini suara dari Kawah Kereta Api, primadona di kawasan ini. Asap putih menyembur terus-menerus dari bekas sumur panas bumi ini. Tak jauh dari sini ada Kawah Hujan, dengan semburan gas dan air panas bergolak dan memercik dari beberapa lubang kawah di tanah. Buat yang suka sensasi mandi air panas, bisa mencoba di sini. Sebenarnya total ada 23 kawah, namun yang asyik dinikmati dan juga gampang dijangkau hanya kawah-kawah ini saja.

Kalau mau sekalian pulang ke Jakarta, tidak perlu balik lagi ke kota Garut. Cukup meneruskan perjalanan dari Kawah Kamojang ini, nanti akan sampai ke Majalaya, dan ujung-ujungnya akan sampai ke pintu tol Muhammad Toha atau Buah Batu, Bandung.

Kawah Darajat yang selalu ramai pengunjung

Kawah Darajat yang selalu ramai pengunjung, terlebih saat weekend.

Tapi kalau Kawah Kamojang ini dirasa terlalu jauh, kita bisa mengunjungi Kawah Darajat, yang ada di di Desa Karyamekar, Kecamatan Pasirwangi. Lokasinya dari Kampung Sampireun ke barat kira-kira 30 menit berkendara. Kalau di Kawah Kamojang kita tidak bisa mandi, di Kawah Darajat justru bisa mandi air hangat belerang sepuasnya karena sumber air panas di sini dibuat kolam-kolam pemandian umum seperti di Cipanas.

9. Surga Tas dan Sepatu di Sukaregang

Kalau suka jaket, sepatu, boots, dompet, ikat pinggang, atau tas dari kulit, mampirlah ke Jl. Ahmad Yani, atau yang lebih dikenal sebagai daerah Sukaregang, di Garut Kota. Favorit saya adalah Salza Leather Shop, yang menjual jaket-jaket berbahan dasar kulit sapi, kulit kambing, dan kulit domba. Di bagian belakang toko ini ada workshop di mana kita bisa melihat para pekerjanya membuat jaket. Ukurannya mulai dari jaket anak-anak hingga orang dewasa, dan kita juga memesan jaket sesuai ukuran kita. Harganya mulai dari 250 ribu hingga jutaan.

Sukaregang

Cintailah produk-produk dalam negeri.

Saya mendapat tas kulit warna cokelat muda yang harganya 300 ribu tapi dapat diskon 50 persen. Sampai sekarang tas itu masih awet saya pakai.

10. Chocodot, Cokelat anti-Galau  

Persis di depan pintu masuk Situ Cangkuang ada deretan toko penjual oleh-oleh khas Garut, dan yang paling menarik perhatian adalah toko yang menjual Chocodot. Kalau diterjemahkan harfiah bahasa sundanya, chocodot adalah pelesetan dari cecodot, yang artinya kelelawar. Tapi chocodot yang dijual di toko ini adalah produk cokelat khas Garut.

Chocodot - nama-namanya bikin ketawa

Chocodot – belum makan sudah ketawa duluan.

Yang bikin terpingkal-pingkal adalah nama-nama cokelatnya yang lucu. Ada Cokelat Anti Galau, Cokelat Cegah 4L4y, Cokelat High Quality Jomblo, dan sebagainya. Memang sih, rasa-rasanya lebih mirip dodol daripada cokelat Swiss, tapi asyik juga buat ngemil sambil jalan. Dan ternyata toko-toko yang menjual cokelat ini bertebaran juga di Jalan Raya Terogong, sebelum masuk kota Garut.

Nah, setelah tahu banyaknya tempat-tempat unik di Garut, kapan mau ke sana nih?

Standard